Peran Asuransi Demi Tercapainya Impian Tanpa Menyusun Ulang Prioritas Rencana

Peran Asuransi Demi Tercapainya Impian Tanpa Menyusun Ulang Prioritas Rencana

Setiap orang punya impian

Tercapainya sebuah impian biasanya berawal dari mimpi, namun tak ada impian yang tercapai tanpa sebuah kerja keras. Setiap orang pasti memiliki impian didalam hidupnya. Setiap orang bebas bermimpi tanpa batas, namun mimpi saja tidak cukup tanpa ada usaha dan pengorbanan didalamnya.

Bahkan, sebagian orang rela mengorbankan kesehatannya demi impian yang diukur dengan sebuah materi atau uang. Namun pada akhirnya uang yang sudah didapatkannya harus dikorbankan kembali untuk bisa mengembalikan kondisi tubuhnya menjadi normal (sehat).

Fenomena tersebut menjadi gaya hidup bahkan siklus bagi generasi millenial yang ingin mencapai tujuan dan impiannya. Percaya atau tidak, saya sebagai generasi millenial menganggap bahwa aset yang paling penting adalah materi atau harta.

Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Banyak orang yang memiliki harta berlimpah, tapi tidak bisa menikmatinya bahkan cenderung tidak bahagia. Terus apa yang salah? Sebenarnya memiliki uang berlimpah tidak salah bahkan itu impian setiap orang. Tapi, penyusunan rencana yang menurutku kurang tepat, egois hanya mementingkan pemasukan  tapi tidak rela mengeluarkan sedikit uang untuk biaya kesehatan.

Sebagai generasi millenial, disini saya akan berbagi pengalaman pribadi agar kalian tidak salah kaprah dalam mengejar sebuah impian yang cenderung mengabaikan kesehatan.

Bekerja Keras demi impian

Dari tahun lalu, saya  mulai merencanakan keuangan dengan tujuan mencapai target atau impian masa depan. Perencanaan keuangan tidak akan lepas dari sumber penghasilan atau kemampuan finansial. Salah satu caranya yakni dapat dicapai dengan bekerja.

Dan saya memutuskan untuk bekerja sebagai freelancer. Bekerja sebagai freelancer rupanya tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Saya harus bekerja dengan cepat dan tepat guna melayani klien (konsumen). Anggapan sebelumnya, menjadi seorang freelancer adalah pekerjaan yang menyenangkan bisa bekerja kapanpun dan dimanapun kita mau.

Bagi millenial yang mempunyai tujuan dengan suatu batasan waktu, maka mereka harus ekstra lebih giat untuk mencapainya. Bagi saya, tujuan utama harus dibreakdown lagi menjadi target harian, bulanan hingga tahunan. Target bulanan saya pada waktu itu adalah sebesar 25 juta. Artinya setiap hari harus mampu mengumpulkan uang sebesar 850 ribu.

Gaya Hidup Millenial

Untuk mencapai nilai tersebut, maka saya harus melakukan breakdown kembali mengenai sumber penghasilan apa saja yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah, salah satunya yakni project dari klien. Tak jarang setiap harinya saya harus begadang hingga larut malam untuk mencapai target harian tersebut.

Setiap project yang dikerjakan membutuhkan pemikiran dan konsentrasi yang tinggi. Biasanya, setiap ada project yang harus dikerjakan, untuk menghindari rasa bosan saya memutuskan untuk mengerjakan ditempat yang nyaman seperti coworking space, warung kopi (warkop) ataupun kafe.

Saya memulai mengerjakan project setiap harinya dari jam 8 pagi di Gedung Siola Surabaya, tepatnya di Koridor Coworking Space. Saya mengerjakan ditempat tersebut biasanya hingga jam 15.00 sore hari. Setelah itu saya kembali ke kos. Lalu, jam 19.00 mulai bekerja lagi tapi mengerjakannya di warung kopi.

Tak jarang mengerjakan project hingga jam 1 dini hari. Keputusan tersebut membawa pada kebiasaan bahkan gaya hidup millenial yakni mengkonsumsi minuman bergula tinggi dan sebatang rokok saat di warung kopi. Saya merasa bahwa siklus gaya hidup tersebut terbilang tidak sehat bagi kondisi tubuh, tapi waktu itu masih belum terlalu terasa, maklum anak muda seperti saya kekebalan tubuhnya masih terbilang kuat hehe.

Menurunnya Data Tahan Tubuh Dapat Memicu Penyakit

Kesibukan menjalankan berbagai aktivitas diatas sangat melelahkan bahkan bisa terserang penyakit, seperti menurunnya fungsi kekebalan tubuh bahkan risiko yang memicu penyakit ringan serta penyakit berbahaya seperti penyakit stroke, gangguan ginjal, hati, hipertensi, dan lain sebagainya.

Sebenarnya  gejala penyakit sudah mulai menghantui tubuh seperti haus berlebih, sering sakit kepala, mata cepat lelah, lesu, stress, dan depresi. Awalnya, saya berpikir bahwa ini tidak masalah karena semua ini dilakukan toh demi impian masa depan. Dan hal ini dijadikan sebagai alasan oleh sebagian millenial termasuk saya, sehingga kita lupa memperhatikan kesehatan diri.

Pada waktu itu yang selalu saya pikirkan adalah uang, uang dan uang. Ya maklum sebagian besar millenial orientasinya pada uang atau hasil tanpa memperhatikan kondisi body mind soul yang prima, sehingga akan menjadi kerja seadanya, bahkan kondisi dimana tidak ada cash flow atau pemasukan dampak dari ketidakproduktifan yang disebabkan oleh kondisi tubuh yang terganggu.

Semua terasa sia-sia, uang habis untuk pengobatan

6 bulan yang lalu, tepatnya bulan Februari 2019 saya harus rawat inap di rumah sakit. “Kamu sering begadang ya?” tanya dokter. “Saat ini, daya tahan tubuhmu menurun, kalau bisa jangan terlalu diforsir untuk terus beraktifitas atau bekerja sampai larut malam” tambah dokter, memberikan arahan pada diri saya. Setelah itu saya bertanya “Emang dampak terburuknya apa dok kalau saya terus memaksakan diri?“. “Jangan begitu lagi ya, kalau terus-terusan dampaknya bisa terkena gagal ginjal, bahkan stroke apalagi kamu kalau begadang pasti ngopi kan?” jawab si bu dokter.

Terlepas dari semua dampak penyakit tersebut. Tak terasa rupanya tabungan yang saya sisihkan untuk masa depan mulai terkikis, perlahan nominal saldo rekening mengempis bahkan penghasilan bulan sebelumnya ludes tak tersisa untuk biaya pengobatan selama dirumah sakit.

Jangan mau mengorbankan kesehatan demi uang

Padahal sebelumnya, saya sudah punya berbagai planning atau perencanaan guna mencapai impian masa depan. Tapi…. itu semua tidak sesuai rencana, bahkan berbagai prioritas rencana yang saya rencanakan sebelummya amburadul tidak teratur. Semuanya rusak! Banyak biaya yang harus dihabiskan diluar prioritas rencana tersebut.

Pada waktu itu, saya sangat depresi dan syok atas hancurnya semua rencana yang sudah disusun. Semuanya tak sesuai rencana! Uang yang seharusnya digunakan untuk keperluan prioritas A, tapi waktu itu uang tersebut harus rela dihabiskan untuk biaya pengobatan.

Hati ini masih tidak terima, tapi disamping itu tubuh meronta ronta seakan mengingatkan bahwa semuanya tak harus diukur dengan uang. Ada yang lebih penting dari sebuah uang!… Setelah beberapa hari berlalu, hati mulai menerima keadaan. Tapi ada sesuatu hal yang mulai terbesit dibenak tentang rencana menikah di tahun 2020. Tiba-tiba hati mulai merengek kembali seakan berkata “Bagaimana kalau kamu mengecewakan si doi kalau sampai gagal nikah?” Duhh sedih rasanya.

Bagaimana kalau pada saat nikah nanti aku dan doi sakit? kan biaya pasti lebih mahal?” “No! No! No!!!, pasti ada yang salah dengan semua ini!” Pungkasku dalam hati.

Pada waktu pemeriksaan oleh bu dokter. Saya sedikit curhat mengenai mahalnya biaya perawatan rumah sakit. “Kamu kok gak pakai asuransi saja dek? Kan enak gak harus ngeluarin biaya sebesar ini..” Tanya dokter. “Loh emang gimana itu dok?” tanyaku dengan rasa penasaran. “Kalau pakai asuransi gak usah mikirin biaya perawatan lagi dek, jadi lebih tenang dak kepikiran” jawab si dokter.

Setelah diperbolehkan pulang, saya mulai mengikhlaskan uang yang telah dihabiskan untuk biaya perawatan selama di rumah sakit. Rasanya…. kerja kerasku selama beberapa bulan menjadi seorang freelancer sia-sia. Uang yang harusnya ditabung untuk masa depan malah habis untuk suatu hal yang tidak terduga yakni biaya perawatan.

Dari rangkaian kejadian diatas, saya mulai belajar dan intropeksi, sebenarnya apa yang salah? Menjawab rasa penasaran tersebut, saya mencoba mengikuti apa yang sudah dokter sarankan saat dirumah sakit tentang asuransi.

Sekarang, Saya SadarSetelah mencari informasi mengenai asuransi, ternyata perlindungan asuransi sangat dibutuhkan yang mana membuat kita sebagai generasi millenial dapat berpikir dan mengambil keputusan lebih leluasa, dan tak ubahnya jalan lain menuju kebebasan, termasuk pada kebebasan finansial (financial freedom).

Peran Asuransi Bagi Generasi Millenial

Sebagai generasi millenial, kita harus mulai membuka mindset dan menyadari akan pentingnya proteksi diri sejak dini agar perencanaan yang sudah diatur berjalan terlaksana. Secara nyata asuransi memiliki dampak positif terhadap mental, pikiran dan kinerja kita.

Berdasarkan kejadian diatas, saya dapat memastikan bahwa asuransi secara tidak langsung menjadi sebuah sarana perencana keuangan. Mengapa? Karena, Uang yang seharusnya dikeluarkan untuk biaya perawatan rumah sakit tapi dapat kita tabung untuk masa depan, sehingga semua prioritas rencana yang sudah tersusun tidak tergeser oleh gangguan biaya tak terduga tersebut.

Jadi, anda akan merasa tenang untuk tetap fokus pada tujuan utama yaitu mengejar impian masa depan. Pengaruh pikiran tenang tersebut akan berdampak pada kinerja dalam bekerja sehingga produktivitas semakin meningkat.

Sekalipun kita memiliki tabungan yang sudah memadai, tingginya biaya perawatan dan pengobatan di era sekarang tanpa ditutupi dengan proteksi diri (asuransi) maka akan memaksa kita untuk menyusun ulang prioritas, menggeser berbagai prioritas rencana yang ingin dicapai dengan tabungan tersebut.

Punya Asuransi Dari Kantor Bagaimana

Sebagian besar millenial saat ini berprofesi sebagai karyawan baik di perusahaan negeri ataupun swasta. Asuransi yang diberikan perusahaan biasanya terikat dengan tempat dan waktu yang akan dibayarkan atau diberikan pada saat terjadi kecelakaan kerja di lingkungan perusahaan saja.

Agar memaksimalkan manfaat asuransi, sebaiknya kita juga memproteksi diri dengan asuransi mandiri yang mana dapat menyesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. Apalagi kita sebagai millenial tak lepas dari habit (gaya hidup) yang berpotensi menyebabkan penyakit. Alasan lain yakni sebagai proteksi jikalau anda pindah tempat kerja.

Pilih Asuransi Yang Tepat

Sebagai generasi millenial harus pintar memahami mulai dari  keunggulan dan pengecualian dari suatu asuransi. Pemilihan perusahaan dan produk asuransi yang tepat harus dipertimbangkan secara matang, karena keputusan tersebut akan berdampak pada manfaat asuransi itu sendiri dikemudian hari.

Asuransi Kesehatan

Berdiri sejak tahun 1984, PT Asuransi Jiwa Sequis Life (Sequis Life) hadir dengan menawarkan berbagai produk inovatif mencakup asuransi jiwa, asuransi pendidikan, dana pensiun dan asuransi kesehatan.

Sesuai dengan Visinya “Menjadi pemimpin pasar di industri asuransi jiwa dan kesehatan di Indonesia”, Sequis berkomitmen untuk menerapkan standar integritas tertinggi dalam industri asuransi jiwa dan kesehatan yang memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa dan menyediakan proteksi berupa asuransi terbaik untuk masa depan masyarakat yang didukung oleh 15.000 tenaga profesional dan 440.000 polis.

Terbukti dengan beberapa penghargaan yang telah diraihnya mulai dari Top Insurance hingga Top 20 Financial Institutions 2018, dimana dalam pengelolaanya terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Adanya Sequis Life memberikan pilihan asuransi terbaik bagi generasi millenial. Bagaimana tidak? Pilihan produk asuransi yang ditawarkan terbilang cukup variatif yang dapat disesuaikan dengan budget dan kebutuhan pemegang polis. Sebut saja pada asuransi kesehatan, terdapat 2 solusi program yakni program individu ataupun kelompok.

Terus mana yang lebih baik? Sebagai generasi millenial sebelum memutuskan memilih suatu produk asuransi sebaiknya kita memperhatikan terlebih dahulu kondisi budget, gaya hidup, riwayat penyakit, dan risiko kesehatan. 4 poin tersebut merupakan formulasi saya dalam menentukan keputusan.

 

Apakah di Sequis Life dapat mengkombinasikan semua kebutuhan tersebut? Tentu saja bisa! Apabila anda menginginkan perlindungan kesehatan hingga 90 miliyar per taun dengan fasilitas VIP dan VVIP seluruh dunia maka dapat memilih program individu seperti produk Sequis Q Infinite Medcare Rider, namun apabila anda ingin mengkombinasikan atau menambahkan asuransi tambahan (rider) maka pilih program group (kumpulan). Besaran premi terbilang variatif dan terjangkau bagi generasi millenial apabila dimulai dari sekarang (sedini mungkin).

Pengalaman dalam industri asuransi selama kurun 35 tahun hingga saat ini, Sequis terus berinovasi guna melayani masyarakat indonesia seperti dengan adanya fasilitas Cashless di lebih dari 500 rumah sakit Indonesia dan lebih dari 50 rumah sakit di Malaysia dan Singapura yang dikelola melalui 7 Customer Service Center di Kota Besar Indonesia.

Sekian celoteh dari saya, semoga pengalaman dan informasi diatas dapat dijadikan pelajaran tentang pentingnya sebuah proteksi untuk masa depan. Perhatikan dan jagalah kondisi tubuh, jiwa dan pikiran kita untuk mengeluarkan potensi terbesar, menghasilkan maha karya yang dapat bermanfaat bagi nusa dan bangsa! Salam Sukses!

Informasi Selengkapnya dapat menghubungi contact yang tertera di website sequis atau melalui laman ini.

14 KOMENTAR

  1. Kerja keras emang harus. Namun sehat juga harus. Karena sebanyak apapun harta kita kalau badan tidak sehat, tentu kurang nikmat dirasakan. Dulu saya memang sering begadang. Tapi setelah efek buruk banyak saya alami, sekarang sudah mulai saya kurangi. Mending tidur cepat dan bangun lebih pagi untuk dapat banyak kerjaan

  2. Pengalaman yang sangat menarik dengan pembahasan ciamik, jadi makin mantek ditambah inforgrafis panutankuuuu wkwk.

  3. Baru tau ternya seperti ini cara kerja asuransi yaa

  4. Bener bener panutannn dalam membahasa sesuatu pasti ciamik banget cara menghubungkannya, good job!

Masukkan Balasan

*